Bagi generasi yang tumbuh besar dengan video “The Simpsons” di situs web atau era game browser yang ikonik, Adobe Animate atau yang lebih dikenal dengan nama legendarisnya, Flash, bukanlah sekadar perangkat lunak. Alat tersebut adalah kanvas digital yang membentuk wajah internet modern. Namun, perjalanan panjang selama tiga dekade itu kini menemui garis akhir.
Tepat pada 2 Februari 2026, Adobe secara resmi mengumumkan bakal “menyuntik mati” alat animasi 2D andalannya tersebut. Di bawah bayang-bayang ambisi kecerdasan buatan (AI), Adobe memilih meninggalkan alat yang pernah membesarkannya demi mengejar tren otomasi yang dianggap lebih efisien.
Mulai 1 Maret mendatang, gerbang bagi pembeli baru akan tertutup rapat. Meskipun pelanggan lama masih diberikan masa tenggang hingga 2027 atau 2029 bagi sektor korporat, ancaman hilangnya data menjadi momok yang nyata. Tanpa ekspor manual sebelum tenggat tersebut, ribuan karya dalam format asli (.fla) terancam terkunci selamanya dalam sejarah digital yang tak bisa diakses kembali.
Melihat ke belakang, sejarah perangkat lunak ini adalah sejarah kreativitas itu sendiri. Lahir sebagai FutureSplash Animator pada 1996, perangkat lunak tersebut sempat menjadi primadona di tangan Macromedia sebelum akhirnya diambil alih Adobe pada 2005. Meski sempat berganti nama menjadi “Animate” pada 2016 demi menyambut era HTML5, roh di dalamnya tetaplah alat yang sama yang memungkinkan animator independen bersaing dengan studio besar.
Ironisnya, saat Adobe memuji kontribusi Animate dalam membangun dunia animasi, mereka justru menawarkan solusi “tambal sulam” sebagai pengganti. Pengguna kini diminta berpindah-pindah antara After Effects dan Adobe Express untuk menyelesaikan satu pekerjaan yang dulunya bisa dilakukan di satu meja kerja Animate. Ketidakhadiran suksesor tunggal yang sepadan inilah yang memicu gelombang keresahan.
Di jagat maya, protes keras terus bermunculan. Dari tim produksi Chikn Nuggit hingga animator kultus David Firth, semuanya menyuarakan kekhawatiran yang sama: hilangnya akses terhadap arsip sejarah digital mereka. Desakan agar Adobe menjadikan program ini sebagai proyek open-source pun menguat. Bagi komunitas, apabila Adobe memang ingin memensiunkan alat ini, setidaknya biarkan komunitas yang selama ini merawatnya tetap memegang kendali atas warisan kreatif mereka, alih-alih membiarkannya mati tertimbun di gudang server.










